recent posts

banner image

Lembagamu Sekolahmu Lembagaku Sekolahku




Apa yang saya alami mungkin dialami juga oleh sebagian orang, bagaimana pendidikan di Indonesia yang serba kekurangan. Dari mulai kekurangan lembaga sekolah, kekurangan kursi, kekurangan guru, kekurangan murid, kekurangan sarana-prasana, hingga kekurangan ruang kelas. Sejatinya pendidikan adalah pena kehidupan yang kita rangkai melalui lembaga sekolah, namun mirisnya lembaga kadang tidak mampu melengkapi warna yang dibutuhkan ketika kita mulai merangkai kehidupan. Terkadang lembaga hanya mementingkan salah satu warna yang mereka punya. Bukannya melengkapi warna yang belum ada mereka justru lebih fokus terhadap warna yang sudah ada. Warna tersebut adalah keunggulan mencolok yang ada pada lembaga atau sekolah.
Sewaktu saya duduk di bangku Sekolah Dasar keunggulan yang mencolok dari sekolah saya adalah karena “TUA”. Karena sekolahku dulu dalam masa jayanya merupakan sekolah yang berkualitas semua bekas peninggalan yang ada di dalam sekolah tersebut mulai dari sarana-prasaran hingga gurunya merupakan peninggalan sekolah dasar yang dulu pernah jaya. Bukannya melengkapi kekurangan mereka yang ada pada sektor lain sekolah justru tetap membanggakan cap “TUA” yang masyarakat berikan terhadap sekolah tersebut. Hingga suatu saat ketika saya sudah keluar dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah tersebut seolah berubah menjadi lebih baik dari segi sarana-prasarana. Entah dari sisi yang lain akan tetapi mereka mulai membenahi lembaga yang mereka duduki sekarang.
      Setelah saya melanjutkan ke jejang yang selanjutnya di Sekolah Menengah Pertama saya merasa di jenjang ini mungkin tidak ada ruang perpustakaan yang bukunya terbitan jaman dahulu karena saya merasa di lembaga ini semua terurus dengan baik. Karena, yang saya rasakan ketika di Sekolah Dasar sama sekali tidak saya rasakan di Sekolah Menengah Pertama dalam segi sarana prasarana dan pendidik atau guru. Namun, dari segi mental saya merasa ada yang berbeda disini semua tidak terkontrol dengan baik, saya lebih sering terdzolimi dan sering mendapatkan bully-an oleh teman-teman satu kelas. Fungsi guru BK tidak efektif dan teman-teman siswa berfikir apabila ada diantara mereka yang masuk kedalam ruangan yang di sebut BK maka anak tersebut banal. Oleh karena itu sebisa mungkin mereka menutupi hal tersebut entah itu bermain dibelakang panggung, sembunyi-sembunyi ata mencoba mengancam siswa yang ia bully untuk tidak melaporkan kepada guru BK.
      Namun perkara bully-membully setelah naik satu tingkat ke jenjang Sekolah Menengah Kejuruan, kebetulan saya melanjutkan ke SMK dan memilih untuk mengambil jurusan Teknik Mesin semua terasa berat. Beban yang diberikan orang tua yang memnginginkan anaknya berprestasi minimal di kelasnya hingga kebutuhan sehari-hari karena mulai jenjang ini saya adalah anak rantau yang hidupnya di kamar kontrakan yang lebarnya hanya 4 x 4 meter yang harus muat untuk hidup selama 3 tahun. Kekurangan-kekurangan yang saya rasakan dari jenjang sebelumnya tidak saya rasakan lagi di jenjang ini. Saya berfikir, mungkin memang pada jenjang ini semua harus terpenuhi. Hanya ada beberapa aspek yaitu kualitas beberapa guru yang kurang berkualitas dalam mengajar dan hanya menyarankan untuk mengerjakan tugas setelah itu pergi. Karena pada saat itu cara mengajar tersebut kurang efektif, entah karena saya anak SMK yang sering disebut kurang dibandingkan SMA ataupun memang kenyataannya seperti itu.
      Semua berjalan lancar sebelum saya melihat lembaga sekolah swasta yang mengingatkan saya terhadap Sekolah Dasar yang membuat saya seperti ini. Sekolah tersebut hanya mementingkan siswa yang harus mencapai target dan banyak ketimbang memperbaiki kualitas sarpras dan guru yang kurang memadai. Bagaimana masyarakat akan tertarik memasukkan anaknya ke lembaga sekolah tersebut apabila segi luarnya saja memprihatinkan, rumput liar dimana-mana, cat yang kusam, gedung yang tidak terawat, dinding gedung yang mulai reyod. Entah apa yang kepala sekolah mereka pikirkan, setidaknya percantik luarnya terlebih dahulu sebelum ingin memikat masyarakat.
      Saya rasa masyarakat tidak munafik dan lebih memilih untuk memasukkan anaknya ke sekolah yang berlabel Negeri ketimbang swasta. Namun tidak semua sekolah yang berlabel swasta tidak berkualitas ataupun yang berlabel Negeri pasti berkualitas. Semua bergantung pada prestasi yang mereka raih dan citra masyarakat yang sudah terlanjur menyebar. Namun semua itu bergantung kepada siswa yang menjalani, apakah ia mampu dan mau?. Banyak orang yang ingin bersekolah namun tehambat oleh orang tua yang tidak mampu, ada juga orang yang orang tuanya mampu namun anaknya tidak mau untuk bersekolah, ada pula yang orang tuanya mampu anaknya juga mampu untuk bersekolah namun ia tidak punya waktu untuk sekolah.
      Jadi, kita harus bersyukur katika kita mampu untuk sekolah karena kita mau maupun karena orang tua kita mampu untuk menyekolahkan kita. Jangan mengeluh ketika pemerintah tidak mampu untuk memberikan warna  yang kita mau untuk melukis kehidupan tapi cobalah untuk memberikan warna tersebut dengan prestasi yang kita berikan kepada sekolah tersebut. Karena prestasi yang kalian dapat adalah warna baru yang sekolah punya apabila mereka hanya mempunyai satu warna.

-Hilman Alfa-
Lembagamu Sekolahmu Lembagaku Sekolahku Lembagamu Sekolahmu Lembagaku Sekolahku Reviewed by Unknown on February 05, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.