Indonesia merupakan
negara kepulauan yang tersebar mulai dari ujung barat Sabang sampai ke timur
Merauke. Terdiri dari 17.508 pulau dan masih ada 6000 pulau yang belum
berpenghuni serta belum diberi nama. Indonesia menjadi negara keempat paling
padat penduduknya di dunia dengan bermacam agama, suku, dan budaya yang
dimilikinya.
Berbicara
tentang negara Indonesia tak lepas dari dunia pendidikan. Pendidikan di
Indoneisa dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang lebih baik lagi.
Dunia pendidikan Indonesia menurut World Education Ranking yang diterbitkan
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menempati urutan
ke 57 dari total 65 negara yang masuk ke dalam peringkat terbaik pendidikan
dunia meskipun ada di urutan bawah. Hal menunjukkan bahwa pemerintah mulai
serius membangun dunia pendidikan agar lebih baik lagi.
Terlepas
dari hal tersebut, ada banyak juga masalah-masalah yang terjadi di dunia
pendidikan di Indonesia. Misalnya, kekurangan tenaga kerja guru, sarana dan
prasarana yang tidak mendukung, biaya sekolah yang mahal, perilaku siswa yang
kurang baik (pergaulan bebas), tenaga kerja yang kurang profesional, lokasi
sekolah jauh dari pemukiman bahkan situasi tempat belajarnya yang tidak
kondusif yang tidak tepat digunakan untuk proses pembelajaran dan masih banyak
hal yang lainya.
Sementara itu, pemerintah
sudah mengupayakan adanya Bantuan Oprasional Sekolah tiap tahunnya ke sekolah
yang dianggap kurang dalam hal sarana dan fasilitas-fasilitas yang mendukung
proses kegiatan pembelajaran. Menurut Permendikbud Nomor 1 Tahun 2008 BOS
digunakan untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan sebagai salah satu
prioritas pembangunan nasional, pemerintah pusat perlu medorong pemerintah
daerah dalam menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat melalui pengalokasian
Dana Bantuan Oprasional Sekolah (Dana BOS. Bantuan tersebut digunakan melengkapi sarana
yang dibutuhkan sekolah tertentu. Misalnya, untuk membangun ruang kelas,
lapangan olahraga, laboratorium, perpustakaan, papan tulis, buku-buku
pelajaran, proyektor, tempat ibadah, dan lain sebagainya.
Sekolah-sekolah yang
mendapatkan dan tersebut seharusnya digunakan untuk melengapi semua kebutuhan
sekolah. Tetapi, banyak oknum sekolah bahkan gurunya yang menyalahgunakan
bantuan-bantuan tersebut. Ada yang menggunakan dana BOS sebagai melengkapi
kebutuhan pribadi tidak sesuai apa yang harus digunakan semestinya, ada juga
dana BOS digunakan untuk pinjamkan kepada pihak lain, membiaya kegiatan yang
tidak menjadi prioritas dari sekolah dan memerlukan biaya yang cukup besar,
membeli perangkat lunak tapi tidak sesuai dengan yang diperlukan (membeli satu
perangkat yang harga belinya ditambahkan), dan masih banyak kejanggalan lain
yang digunakan selain yang disebutkan tadi.
Selain dari
penyelewengan Dana BOS, pendidikan Indonesia juga tak lepas dari kurikulum yang
digunakan. Kita ketahui bahwa kurikulum yang digunakan sekarang adalah
kurikulum 2013 revisi. Kurikulum yang disebut-sebut paling sempurna tetapi
masih banyak perubahan dan revvisi-revisi untuk menyempurnakan kurikulum
tersebut. Memang benar dengan adanya kurikulum akan menyetarakan proses
pembelajaran di seluruh Indonesia. Akan tetapi, masih banyak sekolah yang
justru belum menggunakan kurikulum 2013 revisi sebagai kurikulum yang
digunakan. Banyak sekolah yang masih menggunakan kurikulum 2013 (bukan revisi)
bahkan ada yang masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau
biasa disebut dengan KTSP.
Seharusnya tiap-tiap
sekolah sudah menggunakan kurkulum revisi ini karena sudah disebut dengan
kurikulum nasional. Memang benar kurikulum itu nasional karena yang
menggunakannya juga adalah negara Indonesia. Pemerintah bahkan sudah
menyosialisasikan beberapa tahap untuk menggunakan kurikulum tersebut. Tetapi,
ini yang menjadi kendalanya adalah banyak guru yang menolak adanya kurikulum
2013. Padahal dengan menggunakan kurikulum 2013 kalau dikaji lebih terperinci
lagi banyak perubahan untuk pendidikan yang lebih baik lagi. Dalam hal ini yang
menjadi masalahnya itu kualitas guru atau sekolahnya yang tidak mau maju dengan
perubahan kurikulum.
Sebenarnya setiap
sekolah tu sudah menerima kurikulum yang baru, akan tetapi dari seorang guru
yang masih tetap ingin menggunakan KTSP. Banyak yang beranggapan bahwa tidak
maunya menggunakan kurikulum revisi itu karena banyak yang tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan guru. Tambah lagi sekarang pemerintah menerapkan full day school yang berarti belajar ful
setiap hari dari pagi hingga sore. Belum juga beres dengan masalah kurikulum
2013 ditambah dengan full day school.
Banyak pihak yang
menentang, terutam dari pesentren-pesantren karena tidak ada waktu untuk
sekolah agama. Pihak tersebut beranggapan bahwa full day school itu menjauhkan dari sikap religius siswa yang tidak
belajar sekolah agama. Memang benar full
day school itu kurang efektif jika digunakan di negara Indonesia. Karena
banyak halangan yang menghambat dari program pemerintah tersebut. Pemerintah
sering kali mengubah dan memunculkan program baru untuk dunia pendidikan, tai
jika program tersebut tidak ada sosialisasinya akan menimbulkan praha bagi
seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Seharusnya ada uji coba terlebih dahulu
atau tes untuk memantapkan program-program yang dimunculkan supaya ketika
masyarakat mendengar adanya program atau menerapkan program baru akan siap
menerima jika dilakukan sosialisasi terlebih dahulu. Tetapi jika tidak, maka
reaksi masyarakat akan menimbulkan masalah, bukan hanya dari dunia pendidikan
tetapi merambat ke masalah yang lain seperti politik, budaya, toleransi, dan
lain-lain.
Terlepas dari
permasalah tersebut, sejatinya dunia pendidikan di Indonesia sering
mengahrumkan nama bangsa di kancah dunia. Seperti setiap ada kontes robot
perwakilan dari Indonesia sering menjuarai dari event tersebut, dari ilmu saince,
matematika, di bidang pertanian, hingga bidang olahraga sering mengharumkan
nama bangsa. Semoga pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara
yang sudah maju dari segala aspek.
-Ganjar PE-
Pendidikan, Mau dibawa Ke mana?
Reviewed by Unknown
on
March 12, 2018
Rating:
No comments: