recent posts

banner image

Kesetaraan Gender ? Fenimisme ?



Raden Ajeng Kartini adalah tokoh besar Indonesia yang memperjuangkan hak kaum perempuan untuk dapat setara dengan kaum laki-laki. Raden Ajeng Kartini berusaha untuk dapat mensejajarkan hak yang didapatkan oleh kaum laki-laki seperti dalam hal pekerjaan terutama dalam hal menganyam pendidikan yang dahulu notabene hanya dapat di peroleh oleh kaum laki-laki dan kaum perempuan hanya boleh berada di dapur saja. Ya, tentu saja hal ini menjadikan kaum perempuan Indonesia masa kini berhutang budi kepada Raden Ajeng Kartini, meskipun tak jarang masih adanya kesenjangan gender yang terjadi sampai saat ini.
Indonesia adalah bangsa yang mayoritas penduduknya berbudaya patriarkal, menempatkan kaum laki-laki lebih atas dan lebih unggul dari kaum perempuan dan memperoleh lebih banyak hak dan manfaat dari kaum perempuan. Hal ini tentu saja menciptakan beban tambahan dan hambatan bagi kaum perempuan untuk menikmati kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang dalam ranah pendidikan, politik, pekerjaan dan lainnya. Disamping itu banyak pencapaian yang sudah di peroleh oleh kaum perempuan di Indonesia bahkan di dunia dalam hal  kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (polisi dan TNI)  yang tentu saja melibatkan kaum perempuan.
Kesetaraan gender dimaksudkan agar tidak adanya pembakuan peran, beban ganda, kedudukan tertinggi antara laki-laki dan perempuan, membatasi ruang berekspresi laki-laki atau perempuan dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Perbedaan sifat, sikap dan perilaku yang dianggap khas perempuan atau khas laki-laki atau yang lebih populer dengan istilah feminitas dan maskulinitas hendaknya tidak dijadikan permasalahan karena itu merupakan hasil seseorang dalam suatu proses sosialisasi yang panjang di lingkungan keluarga dan masyarakat, tempat ia tumbuh, berkembang dan dibesarkan.
Kaum perempuan selalu menjadi sasaran terbanyak dalam hal kesenjangan gender, tumbuhnya pemikiran di masyarakat yang seringkali bersifat negatif sehingga melahirkan ketidakadilan bagi kaum perempuan. Sebagai contoh, kaum perempuan sering digambarkan hanya mengandalkan hati bukan pikiran, emosional, lemah, cengeng, dan tidak rasional. Hal tersebut yang kemudian menjadikan kaum perempuan selama ini ditempatkan pada posisi yang rendah daripada kaum laki-laki dan ada pada posisi domestik, kerapkali kaum perempuan diidentikan dengan urusan memasak, kebersihan rumah, dan seks (dapur, sumur, dan kasur). Kaum perempuan juga tak jarang menjadi sasaran kekerasan diantaranya perkosaan, porngrafi, eksploitasi seksual, trafficking, dan yang lainnya. Padahal kaum perempuan juga memiliki hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi kepentingan kaum laki-laki, kaum perempuan pun mempunyai hak yang sama. Sayangnya sampai saat ini, kaum perempuan seringkali dianggap lemah dan hanya menjadi sosok pelengkap.  Terlebih lagi adanya pola berpikir bahwa peran perempuan hanya sebatas bekerja di dapur, sumur, mengurus keluarga dan anak, sehingga pada akhirnya hal di luar itu menjadi tidak penting.
Dewasa ini, kaum perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam berbagai macam hal, dan punya kedudukan setara dengan kaum laki-laki baik itu dalam ranah pendidikan atapun pekerjaan dan yang lainnya. Namun dibalik itu semua, bagaimanapun kehidupan modern sekarang ini kaum perempuan harus tetap menjadi ibu rumah tangga dan tentunya tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya kepada suami ataupun kepada anak-anak. Namun ini tidak berarti bahwa kaum perempuan harus selalu berada di rumah, ia dapat mengangkat pembantu atau suster bila penghasilan keluarga cukup dan kepada mereka dapat didelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga, tetapi sekalipun begitu seorang isteri harus tetap menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab dan rumah tangga tidak dilepaskan begitu saja.
Sebenarnya halangan yang dihadapi kaum perempuan bukan saja dari luar tetapi dari dalam juga. Banyak kaum perempuan memang karena tradisi yang terlalu melekat masih lebih senang ´diperlakukan demikian,´ atau bahkan ikut mengembangkan perilaku ´maskulinisme´ dimana laki-laki dominan. Sebagai contoh dalam soal pembebasan kaum perempuan dari ´pelecehan seksual´ banyak kaum perempuan yang karena dorongan ekonomi atau karena kesenangannya pamer justru mendorong meluasnya prostitusi dan pornografi. Banyak kaum perempuan memang ingin cantik dan dipuji kecantikannya melalui gebyar-gebyar pemilihan ´Miss´ ini dan ´Miss" itu, akibatnya usaha menghentikan yang dianggap ´pelecehan´itu terhalang oleh sikap sebagian kaum perempuan sendiri yang justru ´senang berbuat begitu.´.
Dan mirisnya lagi di Indonesia sekarang ini, banyak kaum perempuan yang merokok secara terang-terangan diarea publik dan sudah dianggap suatu hal yang biasa terjadi dikehidupan sehari-hari. Mungkin mereka menganggap ini adalah suatu bentuk persamaan gender. Selain itu yang lebih parah lagi adalah sebagian perempuan menganggap bahwa virginitas atau keperawanan bagi kaum perempuan itu sekarang ini bukan lagi merupakan suatu hal yang harus dipertahankan. Alasan mereka lagi-lagi adalah persamaan gender. Padahal hal tersebut jelas-jelas bertentangan dengan norma masyarakat dan budaya bangsa kita. Kesadaran kaum perempuan seharusnya dipusatkan pada semangat pembebasan untuk kepentingan manusia dan dimulai dari akar penyebab gerakan yang hanya membela hak-hak kaum perempuan. Meskipun demikian, gerakan feminism bukanlah gerakan yang perjuangannya bersifat memusuhi kaum laki-laki demi persamaan hak. Justru kaum perempuan itu harus bekerja sama dengan kaum laki-laki dalam perjuangan nasional.

-Putri Kusuma Wardani-
Kesetaraan Gender ? Fenimisme ? Kesetaraan Gender ? Fenimisme ? Reviewed by Unknown on March 02, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.